Kenapa Artikel Jurnal Ditolak?
1. Tidak Sesuai Template
Setiap pengelola jurnal mempunyai template atau tata naskah yang berbeda-beda. Hal ini untuk menandakan gaya selingkung dari jurnal yang mereka kelola. Template jurnal disediakan untuk memudahkan penulis dalam menyusun artikelnya. Dalam template tersebut juga biasanya disebutkan aturan main yang berlaku dalam sebuah jurnal. Aturan tersebut menjelaskan bagaimana penulisan abstrak, latar belakang, metode penelitian, pembahasan, gaya penulisan referensi, sumber referensi, hingga penyusunan kesimpulan dan saran. Pengelola akan lebih senang menerima artikel yang sudah sejak awal sesuai dengan template yang telah ditentukan. Ini menjadi langkah yang baik dalam pengiriman sebuah artikel ilmiah.
2. Ruang Lingkup Yang Salah
Hal ini sering tidak penulis sadari bahwa setiap jurnal mempunyai ruang lingkup yang khusus. Setiap jurnal akan menuliskan ruang lingkup artikel yang dapat diterima dalam setiap terbitannya. Hal ini untuk menjelaskan bahwa pengelola hanya menerima artikel dengan ruang lingkup yang telah ditentukan. Seperti misalnya Jurnal yang terkait dengan matematika atau ilmu komunikasi akan menolak artikel dengan ruang lingkup biologi. Beberapa hal yang kerap dilupakan penulis adalah menyamakan antara Administrasi Publik dengan Manajemen.
3. Plagiasi Yang Tinggi
Artikel yang baik adalah artikel yang sangat minim plagiasi. Beberapa jurnal menetapkan batasan plagiasi adalah maksimal 20%. Kita dapat memeriksa hasil karya tulis kita melalui aplikasi turnitin, ithenticate dan lain sebagainya. Aplikasi ini tentunya berbayar. Lantas bagaimana untuk yang tidak berbayar? Beberapa situs online menawarkan pengecekan plagiasi dengan gratis, seperti plagiarism checker. Tetapi ada batasan jumlah kata yang setiap pengecekan. Tentunya ini bisa menjadi solusi awal untuk mengetahui seberapa besar angka plagiasi sebuah artikel.
4. Topik Kurang Menarik
Setiap jurnal tentunya ingin mempublikasikan topik maupun isu yang sedang hangat. Jika kita mengirimkan topik yang sudah usang, tentunya ini akan mengurangi minat pengelola untuk melanjutkan proses publikasi. Selain sudah usang, isu-isu yang sudah sering dibahas juga mengurangi minat pembaca. Untuk dapat mengetahui bagaimana topik kita masih menarik, kita dapat melihat di google scholar, bagaimana topik tersebut masih minim dibahas atau sudah terlalu banyak.
Baca Juga : Cara Traveller Dapatkan Uang
5. Belum Ada Gap Permasalahan
Gap permasalahan adalah kesenjangan fakta di lapangan dengan harapan. Sebuah artikel akan lebih menarik jika sejak awal dapat menggiring opini pembaca bahwa isu yang diangkat sangat relevan. Ada permasalahan yang menarik untuk diangkat. Tentunya menggunakan data dan fakta yang akurat.
6. Metodologi Yang Salah
Metodologi penelitian digunakan untuk menjawab permasalahan yang diangkat. Hal ini harus sesuai dengan pembahasan di latar belakang, bagaimana menyelesaikan atau melihat sebuah masalah dengan pisau analisis yang tepat. Jika yang ditampilkan pada latar belakang tidak sesuai dengan metode yang kita gunakan, sudah barang tentu artikel akan ditolak oleh pengelola jurnal.
7. Minimnya Pembahasan
Kekuatan dalam sebuah artikel adalah hasil analisis yang penulis tampilkan. Ada argumentasi yang dibangun berdasarkan hasil pengumpulan data dan perpaduan dengan teori-teori. Jika data yang dimunculkan tidak diikuti dengan penjelasan dari penulis, tentunya akan membingungkan para pembaca jurnal. Pembaca akan kebingungan terhadap hasil dari sebuah penelitian.
8. Salah Menyimpulkan
Kesimpulan adalah rangkuman dari hasil penelitian. Jadi bukan sekedar copy paste dari halaman pembahasan. Kesimpulan harus sesuai dengan temuan yang telah diterima dalam sebuah penelitian. Kesimpulan akan lebih menarik jika dapat menyampaikan sesuatu yang masih baru dan penting untuk diteliti.
9. Sumber Referensi
Setiap jurnal mempunyai aturan khusus terkait sumber-sumber yang digunakan dalam sebuah artikel. Pada jurnal-jurnal bereputasi, biasanya menerapkan bahwa sumber referensi harus berasal dari jurnal ilmiah bereputasi dengan kurun waktu 10 tahun terakhir. Pada jurnal lainnya, biasanya hanya menyebutkan sumber referensi harus 80% berasal dari jurnal saja. Hal ini yang kerap dilupakan oleh para penulis. Penulis bisa menggunakan sumber referensi dari buku maupun internet, tetapi jurnal lebih disarankan karena hasil-hasil dari jurnal biasanya merupakan data/dokumen terbaru.
10. Belum Menggunakan Aplikasi Referensi
Belakangan ini para pengelola jurnal mewajibkan para penulis untuk menggunakan aplikasi referensi seperti Mendeley, Zotero, Endnotes. Hal ini untuk meminimalisir plagiasi dalam sebuah artikel. Aplikasi referensi juga akan membantu kita agar tidak lupa untuk memasukkan sumber referensi ke dalam daftar pustaka.

Posting Komentar untuk " Kenapa Artikel Jurnal Ditolak?"